Tafsir Surah An Nisaa 171

💬 : 0 comment

Tafsir Indonesia Depag Surah An-Nisaa' 171


يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُولُواْ ثَلاَثَةٌ انتَهُواْ خَيْرًا لَّكُمْ إِنَّمَا اللّهُ إِلَـهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَات وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu [383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, 'Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya [384] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya [385]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

[383] Maksudnya : janganlah kamu mengatakan Nabi 'Isa u itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani.
[384] Lihat not 193.
[385] Disebut tiupan dari Allah karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.

Allah melarang kaum Nasrani melampaui batas dalam beragama dengan menambah-nambah hal-hal yang bukan dari agama seperti memuja dan mengagung-agungkan nabi mereka sampai melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah dengan mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya dan dengan mengatakan bahwa Isa itu adalah putra Allah.

Melampaui batas-batas yang telah digariskan Allah SWT. ialah melanggar larangan-larangan-Nya dan mengingkari ketentuan dan ketetapan-Nya. Perbuatan itu adalah amal berbahaya dan nyata-nyata mengingkari tuntunan Allah yang telah diberikan, tindakan mereka akan membawa kepada kedurhakaan dan tidak mustahil akan membawa kepada kekafiran dan kemusyrikan. Hal ini pulalah yang membawa kaum Nasrani kepada anggapan bahwa Tuhan itu salah satu dari Tuhan-tuhan yang tiga atau Tuhan itu terdiri dari oknum-oknum yang tiga. Sebagai penolakan atas paham yang salah ini Allah SWT, menyatakan bahwa Isa ibnu Maryam hanyalah utusan Allah kepada hamba-Nya, bukan Tuhan yang disembah sebagai yang dianggap kaum Nasrani Isa as. sendiri menyeru mereka supaya mengesakan Allah, tak ada yang disembah hanyalah Dia, dan dia melarang pula kaumnya supaya jangan mempersekutukan Allah dengan suatu apapun. Sebagai tambahan atas penegasan tersebut Allah memfirmankan lagi bahwa Isa as, itu diciptakan dengan kalimat berupa ucapan "jadilah" (kun) tanpa ada seorang laki-laki pun (bapak) yang menikahi ibunya dan tanpa air mani yang masuk ke dalam rahim ibunya sebagaimana terciptanya manusia biasa.

Tatkala Allah SWT, mengutus kepada ibunya malaikat Jibril dan memberitahukan bahwa Ia adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan kepadanya berita gembira, yaitu dia akan memperoleh seorang anak laki-laki, Maryam merasa terkejut dan membantah dengan keras, karena ia masih perawan dan tidak pernah bersuami atau disentuh oleh seorang laki-laki. Lalu Jibril membacakan kepadanya firman Allah:

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ 

Artinya:
Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu. Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah" lalu jadilah.
(Q.S. Ali Imran: 47)

Demikianlah dengan kala "kun" itu terciptalah Isa dalam kandungan ibunya. Inilah suatu bukti kekuasaan Allah, bila Dia hendak menciptakan sesuatu cukup dengan ucapan "kun" saja. Hal serupa ini berlaku pula penciptaan Nabi Adam as sebagaimana tersebut pada firman Allah SWT:

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ 

Artinya
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia) maka jadilah dia.
(Q.S. Ali Imran: 59)

Lalu ditiuplah roh ciptaan Allah ke dalam perut ibunya dan berkembanglah ia sampai datang masa melahirkannya. Sebagaimana kaum Nasrani menduga bahwa yang ditiupkan ke dalam perut ibunya itu adalah sebagian dan roh Allah dan atas dasar inilah mereka menganggap bahwa Isa adalah putra Allah karena ia adalah sebahagian dari roh-Nya. Ada di antara mufassirin menceritakan mengenai anggapan ini bahwa seorang rahib Nasrani yang mengobati Khalifah Harun Ar Rasyid berdiskusi dengan seorang ulama Islam yaitu Ali bin Husein Al Waqidi Al Marwazi. Tabib Nasrani itu berkata kepada Alwaqidi: "Di dalam Kitabmu (Alquran) terdapat ayat yang membenarkan pendapat dan kepercayaan kami bahwa Isa as, adalah sebagian dari Allah, lalu dia membacakan bagian pertama dari ayat 171 ini. Sebagai jawaban atas perkataan tabib itu Al Waqidi membacakan ayat

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ 

Artinya:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya.
(Q.S. al-Jatsiyah: 13)

Kemudian Al Waqidi berkata: "kalau benar apa yang kamu katakan bahwa kata 'min-hu' dalam ayat yang kamu baca itu berarti 'sebahagian dan pada Nya', sehingga kamu mengatakan bahwa Isa as, adalah sebagian dari Allah pula Hal ini berarti bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini adalah sebahagian dari Allah. Dengan jawaban ini terdiamlah tabib Nasrani itu lalu dia masuk Islam. (Tafsir Al-Maeagi, juz VI, hal. 30)

Karena kaum Nasrani itu telah tersesat dari akidah tauhid yang dibawa oleh para rasul, maka Allah memerintahkan kepada mereka agar kembali kepada akidah yang benar dengan beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan beriman kepada rasul-Nya yang selalu menyeru kepada akidah tauhid dan janganlah mereka mengatakan lagi bahwa ada tiga Tuhan yaitu Bapak, Anak dan Ruhul Qudus, atau mengatakan bahwa Allah itu terdiri dari tiga oknum, masing-masingnya adalah Tuhan yang sempurna, dan kumpulan dari tiga oknum itulah Tuhan Yang Esa. Mereka diperintahkan meninggalkan paham yang sesat dan menyesatkan ini, karena meninggalkan paham yang sesat itulah yang balk bagi mereka, mereka akan menjadi penganut agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan para Nabi-nabi sebelum dan sesudahnya akan menjadi orang yang benar-benar dan tidak akan termasuk golongan orang-orang kafir. Dalam ayat lain Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ 

Artinya:
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga" padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa.
(Q.S. Al-Ma'idah: 73)

Jika mereka tidak berhenti dan apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih, kemudian ditegaskan lagi kepada mereka bahwa Allah sajalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Maha bersih dari sifat berbilang atau terbagi-bagi kepada beberapa bagian atau tersusun dari tiga oknum atau bersatu dengan makhluk-makhluk lainnya. Maha Suci Allah dari hal-hal tersebut dan mustahil Dia mempunyai anak sebagaimana anggapan mereka atau Isa itu adalah Tuhan sebagaimana dikatakan oleh segolongan lain di antara mereka. Allah adalah Maha Esa tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak beristri sebagai manusia yang melahirkan seorang anak bagi-Nya. Dialah pemilik langit dan bumi serta semua yang ada pada keduanya termasuk Isa as.

Allah berfirman:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا ءَاتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا 

Artinya:
"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba"
(Q.S. Maryam: 93)

Tidak ada kecualinya dalam hal ini, semua makhluk akan menghadap ke hadirat Tuhan sebagai hamba, apapun pangkat dan derajatnya, baik dia malaikat, seorang Nabi, seorang yang diciptakan-Nya tanpa bapak dan ibu Seperti Nabi Adam as atau yang diciptakan-Nya tanpa bapak saja seperti Isa as maupun yang diciptakan dengan perantara bapak dan ibu; semua-Nya itu adalah hamba-Nya yang berharap kepada karunia dan rahmat-Nya, Dialah yang berkuasa sepenuhnya atas mereka dan Dialah yang memelihara dan kepada-Nya-lah mereka harus menyembah, berdoa dan bertawakal, Akidah tauhid inilah yang dibawa dan disampaikan para Nabi dan Rasul kepada umatnya termasuk Nabi Isa as, dan paham inilah yang dianut oleh para pengikutnya sesuai dengan dakwah dan ajarannya. Tetapi pengikutnya yang datang kemudian terutama pengikut-pengikut yang dahulunya telah menganut agama-agama yang bermacam-macam tidak dapat melepaskan dirinya dari paham lama yang sesat itu sehingga mereka mencoba dan berusaha dengan sekuat tenaga agar agama Masehi yang mereka anut itu mempunyai corak yang sama dengan agama-agama nenek moyang mereka yang dahulu itu. Paham Trinitas (menganggap Tuhan adalah tiga) sudah berkembang di Mesir, semenjak lebih kurang 4.000 tahun sebelum Masehi. Di antara mereka ada yang menganggap bahwa Tuhan itu ialah Osiris, Isis dan Huris. Demikian pula di India terdapat paham ini yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah tiga yang terdiri dari Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Penganut Budhapun ada yang mengatakan bahwa Budha itu adalah Tuhan yang terdiri dari tiga oknum. Juga di Persia terdapat paham seperti ini. Mereka menyembah Tuhan yang terdiri dari tiga oknum pula yaitu Hurmuz, Mitrat dan Ahriman. Akhirnya mereka terbawa hanyut oleh paham trinitas yang beraneka ragam coraknya dan jadilah mereka tersebut tersesat dari paham tauhid yang di bawa Nabi Isa as dan amat sulitlah bagi mereka untuk meniggalkannya. Para intelektual dari penganut agama Masehi ini memang merasakan dan mengetahui bahwa paham "taslis" ini tidak dapat diterima akal, akan tetapi mereka tetap mencari-cari alasan untuk membenarkan paham ini. Di antara pendeta mereka ada yang mengatakan: "Dalam hal ini kita harus menyerahkan persoalan ini kepada hal-hal yang gaib yang belum diketahui oleh manusia dan tidak akan dapat diketahuinya, kecuali bila hijab telah berkata untuk itu dan jelaslah di waktu itu semua yang ada di langit dan di bumi".

Pendeta Bother pengarang buku "Al-Usul wal furu'" (yang asal dari cabang-cabang), dan salah seorang juru penerang agama Nasrani berkata mengenai hal ini: "Kita telah mencoba memahaminya dengan lebih jelas yaitu di kala telah terbuka bagi kita tabir rahasia semua apa yang ada di langit dan di bumi".

Dapat disimpulkan bahwa agama Nasrani benar-benar didasarkan kepada paham tauhid yang murni tetapi para pendetanya mencampur baurkan dan mengubahnya menjadi agama trinitas yang tidak dapat dipahami oleh akal, karena terpengaruh oleh paham-paham "taslis" bangsa Yunani dan Romawi yang mereka ambil dari paham-paham keagamaan Mesir lama dan Brahma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar!
Apabila ada penulisan yang salah atau kurang tepat.