Al-A'raf 89

💬 : 0 comment

Tafsir Indonesia Depag Surah Al-A'raf Ayat 89


قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُم بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَن نَّعُودَ فِيهَا إِلاَّ أَن يَشَاء اللّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.

Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan ucapan Nabi Syuaib selanjutnya terhadap kaumnya yang telah mengancam untuk mengusirnya dari negerinya apabila ia tidak mau menghentikan dakwahnya dan masuk ke agama mereka yang berdasarkan kemusyrikan itu. Nabi Syuaib berkata: "Alangkah besarnya dosa dan kebohongan kami terhadap Allah swt. apabila kami kembali kepada agama kamu padahal Allah telah menyelamatkan kami daripadanya dan Dia telah menunjuki kami kepada jalan yang lurus. Apabila seseorang mengikuti agama kamu tanpa pengetahuan dianggap sebagai orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah swt., maka bagaimanakah halnya orang yang sengaja mengada-adakan kebohongan terhadapnya, dan sengaja menyimpang dari jalan yang telah ditunjukkan-Nya secara sadar, dan mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Kekafiran semacam itu adalah kekafiran yang paling jahat. Berbuat kebohongan kepada Allah swt. adalah perbuatan yang amat keji tidak akan diampuni-Nya. Oleh sebab itu kami tidak akan melakukannya."

Dari penegasan Nabi Syuaib ini dapat pula diambil kesimpulan bahwa Allah swt. telah menyelamatkan para pengikutnya dan sahabat-sahabatnya, termasuk dirinya sendiri dari agama syirik yang dianut kaumnya itu, atau dapat pula diartikan bahwa Allah swt. telah menyelamatkan Nabi Syuaib dari kemusyrikan. Sehingga ia tidak pernah menganut kepercayaan yang dianut kaumnya itu dan tidak menyembah apa-apa yang disembah oleh mereka. Maka Allah swt. lah yang menunjukinya kepada cara yang benar. Ini sama halnya dengan apa yang dialami Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana ditegaskan Allah dalam Alquran dengan firman-Nya:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

Artinya:
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
(Q.S Ad Duha: 7)

Dan firman-Nya lagi:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
(Q.S Asy Syura: 52)

Selanjutnya Nabi Syuaib menegaskan kepada kaumnya, bahwa tidaklah layak dan tidak masuk akal, bahwa dia dan para pengikutnya akan meninggalkan agama yang benar serta kembali kepada agama mereka, kecuali jika Allah menghendakinya. Maksudnya ialah bahwa dia beserta para pengikutnya yakin sungguh, bahwa agama yang dianut kaumnya itu adalah agama yang tidak benar sedangkan agama yang dianutnya beserta para pengikutnya adalah agama yang benar dapat menjamin kebahagiaan manusia dunia dan akhirat.

Sudah barang tentu Allah swt. tidak menghendaki agar Nabi Syuaib dan para pengikutnya kembali kepada agama kaumnya yang penuh dengan kemusyrikan itu, sebab Allah sendirilah yang telah membebaskannya dari kemusyrikan itu dan menunjukinya kepada agama yang benar. Oleh sebab itu janganlah diharapkan bahwa Nabi Syuaib dan para pengikutnya akan kembali kepada agama mereka.

Kemudian Nabi Syuaib mengingatkan pula bahwa ilmu Allah swt. adalah Maha Luas meliputi segala sesuatu. Ia mengetahui segala hikmah dan hal-hal yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi hamba-Nya. Dan kehendak-Nya senantiasa berlaku sesuai dengan hikmah tersebut. Maka segala sesuatu yang terjadi pada makhluk-Nya tidaklah terlepas dari hikmah tersebut. Oleh sebab itu kepada-Nya sajalah ia dan para pengikutnya bertawakal dan berserah diri dan disertai ketaatan dalam menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, yaitu menjaga syariat dan agama-Nya. Dialah yang akan melindungi Nabi Syuaib dan para pengikutnya itu dari segala ancaman dan gangguan kaumnya dan dari segala bahaya yang ia tidak mempunyai daya upaya untuk menghindari dan melawannya.

Perlu diketahui bahwa salah satu syarat dari tawakal ialah keteguhan dalam melaksanakan syariat yang telah ditetapkan Allah, serta mematuhi peraturan umum yang ditentukan-Nya, baik mengenai alam maupun masyarakat, terutama hubungan antara sebab dan akibat. Misalnya bila kita ingin memperoleh rezeki dari Allah, maka kita harus berusaha, serta menjaga peraturan Allah dan menjalankan usaha-usaha tersebut. Apabila usaha sudah dijalankan menurut cara-cara yang diperlukan, serta menjaga peraturan yang telah ditetapkan Allah dan syariat-Nya, maka barulah kita bertawakal. Tawakal yang dilakukan tanpa didahului dengan usaha yang benar dan sesuai dengan peraturan Allah adalah tawakal yang tidak benar. Itulah sebabnya Rasulullah saw. pernah menegur seseorang yang tidak menambatkan untanya ketika ia mau menghadap Rasulullah, karena katanya ia telah bertawakal kepada Allah lebih dahulu. Seharusnya ia menambatkan untanya terlebih dahulu sebelum ia meninggalkannya. Ini merupakan usaha sebagai syarat untuk bertawakal. Menurut keadaan yang biasa berlaku, unta tidak akan lari bila ia telah ditambatkan dengan baik.

Allah swt. berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya:
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
(Q.S Ali Imran: 159)

Berazam ialah membulatkan tekad. Kebulatan tekad itu barulah kita peroleh setelah kita melakukan usaha-usaha yang layak yang diperlukan untuk mencapai tujuan, serta mengindahkan peraturan-peraturan yang ditetapkan syariat.

Setelah Nabi Syuaib menyatakan penyerahan dirinya kepada Allah swt. diakhiri dengan doa semoga Allah memberikan keputusan yang adil antara dia dan kaumnya. Sesudah itu, ia menyatakan pengakuan dan keyakinannya bahwa Allah swt. adalah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya karena Ia Maha Adil dan Maha Mengetahui.

Sebagaimana diketahui, sebelum lahirnya Nabi Syuaib di Madyan telah banyak rasul-rasul yang diutus Allah swt. untuk menyampaikan agama-Nya kepada umat manusia. Dan pada umumnya, para rasul itu mendapat tantangan dan dimusuhi oleh sebagian kaumnya, yaitu mereka yang ingkar kepada Allah swt. Pada akhirnya, para rasul tersebut mendapat pertolongan dari Allah karena mereka adalah orang-orang yang menjalankan perintah Allah dan selalu bersikap jujur dan berbuat baik. Sebaliknya orang-orang kafir itulah yang menemui nasib malang akibat kekafiran mereka itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar!
Apabila ada penulisan yang salah atau kurang tepat.