Al-A'raf 126

💬 : 0 comment

Tafsir Indonesia Depag Surah Al-A'raf Ayat 126


وَمَا تَنقِمُ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat- ayat itu datang kepada kami". (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)".

Dalam ayat ini Allah swt. menceritakan ucapan selanjutnya dari para ahli sihir kepada Firaun. Mereka menyingkapkan kejahatan Firaun terhadap mereka, yaitu bahwa Firaun ingin membalas dendam kepada mereka dengan menyiksa mereka secara kejam. Dan semuanya itu hanyalah karena mereka telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan ketika ayat-ayat tersebut datang kepada mereka.

Ucapan mereka ini mengandung arti bahwa Firaun tidak mengharapkan dari mereka akan meninggalkan iman kepada Allah swt. dan ancaman yang bagaimanapun yang dihadapi mereka tidak akan mempengaruhi mereka, karena keimanan kepada Allah swt. adalah suatu yang amat berharga dan sesuai dengan fitrah manusia yang ash dan menjadi pokok bagi kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat kelak.

Firaun mencela para ahli sihir sebab mereka telah sujud dan beriman kepada Allah swt. tanpa minta izin terlebih dahulu kepada Firaun. Dan di samping itu, Firaun telah menuduh mereka berkomplot dengan Nabi Musa a.s. untuk merebut kekuasaan dari tangannya dan untuk mengusir bangsa Mesir dari tanah air mereka. Akhirnya Firaun mengancam untuk memotong tangan dan kaki mereka, ditambah dengan siksaan berupa penyaliban. Semua itu pada hakikatnya telah merupakan pembalasan dendam dengan kata-kata dari Firaun terhadap mereka. Sesudah itu Firaun juga berusaha untuk melakukan balas dendam dengan perbuatan mereka dari siapa saja yang beriman kepada Allah memenuhi seruan Nabi Musa a.s. Akan tetapi balas dendam dengan perbuatan ini, biarpun telah dilaksanakan oleh Firaun akan tetapi tidak mendatangkan hasil apapun baginya. Bahkan sebaliknya, dia bersama para pembesarnya akhirnya menemui nasib yang amat celaka.

Dalam ayat lain disebutkan firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun sebagai berikut:

أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ

Artinya:
Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.
(Q.S Al Qasas: 35)

Selanjutnya Allah swt. menceritakan mengenai para ahli sihir tersebut, bahwa setelah mereka memberikan jawaban yang tegas seperti di atas, mereka lalu berdoa ke hadirat Allah swt, semoga mereka dilimpahi kesabaran dan apabila Allah mewafatkan mereka hendaklah dalam keadaan mereka berserah diri kepada-Nya. Doa mereka kepada Allah swt. agar dilimpahi kesabaran menunjukkan betapa pentingnya kesabaran dalam setiap perjuangan, terutama perjuangan melawan kelaliman.

Kesabaran tidak hanya berarti kemampuan menahan diri dari kemarahan, akan tetapi juga berarti mawas diri, mengendalikan hawa nafsu, serta tangguh menghadapi segala rintangan dan .penderitaan.

Orang yang sabar, tidak akan membalas dendam, walaupun ia mampu untuk melakukannya. Orang yang sabar senantiasa dapat memelihara pertimbangan akal yang sehat, sehingga ia tidak akan terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang dapat merugikan dirinya dan perjuangan umatnya.

Jalan untuk mencapai kesabaran ialah iman yang kokoh kepada Allah dan hari akhirat. Hal ini telah dibuktikan oleh kenyataan sejarah umat manusia, yaitu bahwa umat yang kuat imannya adalah merupakan umat yang paling sabar dan tangguh dalam perjuangan dan mempunyai keberanian yang tinggi. Karena kesabaran serta keberanian itu, timbullah pikiran dan usaha-usaha pada sementara pimpinan angkatan perang pada beberapa negara., untuk menggalakkan pendidikan agama dan rawatan rohani bagi para prajurit dan perwira angkatan perang, agar mereka memiliki iman yang kokoh yang akan membuahkan sifat kesabaran dan keberanian.

Dalam pada itu, Allah swt. berulang kali dalam firman-Nya menjanjikan pertolongan-Nya bagi orang-orang yang sabar dan ia memberikan petunjuk agar manusia senantiasa bersabar dan menganjurkan orang lain untuk bersabar.

Allah berfirman:

الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya
(Yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.
(Q.S An Nahl: 42)

Firman-Nya lagi:

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya:
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
(Q.S Al 'Asr: 3)

Ajaran tentang kesabaran ini sangat dipentingkan agama Islam, sehingga dalam Alquran terdapat sekitar 100 kali disebutkan, baik berupa perintah tentang bersabar, maupun berupa pujian bagi orang-orang yang bersabar, ataupun janji kemenangan, keberuntungan dan pertolongan Allah bagi orang orang yang bersabar. Sering kali kata-kata sabar itu digandengkan dengan kata-kata iman, takwa, tawakal, kebenaran, perjuangan, kekuatan tekad dan sebagainya.

Dalam hadis-hadis Rasulullahpun banyak terdapat ajaran tentang kesabaran mengenai hubungan antara kesabaran dan keberanian beliau bersabda:

ليس الشديد بالصرعة وإنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب

Artinya:
Orang yang kuat bukanlah orang yang dapat membanting orang, tetapi orang kuat adalah orang yang sanggup menguasai dirinya ketika dia sedang marah.
(H.R Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra.)

Orang yang sabar senantiasa tenang dan mempunyai pikiran terang, sehingga segala ucapan dan tindak tanduknya dapat dikendalikan dengan baik dan pendiriannya tidak tergoyahkan oleh ancaman dan bujukan bagaimanapun juga. Oleh sebab itu, dalam suatu hadis yang lain Rasulullah saw bersabda, "As Sabru diya'un", Artinya, "Kesabaran itu adalah sinar yang terang". Sebaliknya orang yang tidak sabar tentu akan kehilangan akal sehat serta mudah dipengaruhi setan, sehingga ucapan dan tindakannya tidak dapat dikendalikannya. Hal ini akan membawa kepada akibat yang jelek dan akan menimbulkan kerugian dan penyesalan. Oleh sebab itu Rasulullah saw. memperingatkan dengan sabda beliau, "Al ajalatu minasy syaitan". Artinya, "Sifat tergesa-gesa itu perbuatan setan".

Karena pentingnya sifat kesabaran itu, maka tidaklah mengherankan mengapa orang-orang yang telah beriman kepada Nabi Musa a.s. dalam kisah tersebut memohon kepada Allah agar mereka dilimpahi kesabaran yang banyak, sehingga iman mereka tidak akan digoyahkan oleh ancaman Firaun dan pembesar-pembesarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar!
Apabila ada penulisan yang salah atau kurang tepat.