Tafsir Surah Al An'am 108

💬 : 0 comment

Tafsir Indonesia Depag Surah Al An'am 108


وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Sesudah itu Allah swt. melarang kaum muslimin memaki berhala yang disembah kaum musyrikin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadinya, yaitu maki-makian terhadap Allah yang melampaui batas dari pihak orang-orang musyrikin, karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui sifat-sifat Allah swt. dan sebutan-sebutan yang seharusnya diucapkan untuk-Nya. Maka bisa terjadi mereka memaki-maki Allah dengan kata-kata yang menyebabkan kemarahan orang-orang mukmin. Dan ayat ini dapat diambil pengertian bahwa sesuatu perbuatan apabila dipergunakan untuk terwujudnya perbuatan lain yang maksiat, maka seharusnyalah ditinggalkan, dan segala perbuatan yang menimbulkan akibat buruk, maka perbuatan itu terlarang. Dan ayat ini memberikan isyarat pula kepada adanya larangan bagi kaum Muslimin bahwa mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan orang-orang kafir tambah menjauhi kebenaran. Memaki-maki berhala sebenarnya adalah memaki-maki benda mati. Oleh sebab itu memaki berhala itu adalah tidak dosa. Akan tetapi karena memaki berhala itu menyebabkan orang-orang musyrik merasa tersinggung dan marah, yang akhirnya mereka akan membalas dengan memaki-maki Allah, maka terlaranglah perbuatan itu.

Allah swt. memberikan penjelasan bahwa Dia menjadikan setiap umat menganggap baik perbuatan mereka sendiri. Hal ini berarti bahwa ukuran baik dun tidaknya sesuatu perbuatan atau kebiasaan, adakalanya timbul dari penilaian manusia sendiri, apakah itu merupakan perbuatan atau kebiasaan yang turun temurun ataupun perbuatan serta kebiasaan yang baru saja timbul, seperti tersinggungnya perasaan orang-orang musyrik apabila ada orang-orang yang memaki berhala-berhala mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran untuk menilai perbuatan atau kebiasaan itu baik atau buruk, adalah termasuk persoalan yang ikhtiyari. Hanya saja di samping itu Allah swt. telah memberikan naluri pada diri manusia untuk menilai perbuatan dan kebiasaan itu, apakah perbuatan dan kebiasaan itu termasuk baik ataukah buruk. Sedangkan tugas-tugas Rasul adalah menyampaikan wahyu yang membimbing dan mengarahkan bakat-bakat itu untuk berkembang sebagaimana mestinya ke jalan yang benar agar mereka dapat menilai perbuatan serta kebiasaan itu dengan penilaian yang benar.

Pada akhir ayat ini Allah swt. memberikan penjelasan bahwa manusia keseluruhannya akan kembali kepada Allah setelah mereka mati, yaitu pada hari berbangkit; karena Dialah Tuhan yang sebenarnya dan Dia akan memberitakan seluruh perbuatan yang mereka lakukan di dunia, dan akan memberikan balasan yang setimpal.

Mengenai sebab turunnya ayat ini diceritakan sebagai berikut: Pada suatu ketika orang-orang Islam memaki-maki berhala, sesembahan orang-orang kafir, kemudian mereka dilarang dari memaki-maki itu. (Riwayat Abdurrazak dari Qatadah))

Menurut keterangan Az Zajjaj bahwasanya orang-orang Islam dilarang melaknati berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik.

Asbabun Nuzul Depag Surah Al An'am 108


Abdurrazzaq telah mengatakan, "Mu'ammar menceritakan kepada kami melalui Qatadah. Qatadah telah bercerita, bahwa dahulu orang-orang muslim sering memaki berhala-berhala orang-orang kafir, pada akhirnya orang-orang kafir balas memaki Allah, kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, 'Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah...'" (Q.S. Al-An'am 108).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar!
Apabila ada penulisan yang salah atau kurang tepat.