Al Baqarah 264

💬 : 0 comment

Tafsir Indonesia Depag Surah Al-Baqarah 264

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(QS. 2:264)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Dalam ayat ini Allah menujukan firman-Nya kepada orang-orang yang beriman agar mereka jangan sampai melenyapkan pahala infak mereka lantaran menyertainya dengan kata-kata yang menyakitkan hati atau dengan menyebut-nyebut infak yang telah diberikan itu.

Infak bertujuan untuk menghibur dan meringankan penderitaan fakir miskin dan untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Itulah sebabnya, maka sedekah itu tidak boleh disebut-sebut, atau disertai kata-kata yang menyakitkan hati si penerimanya.

Apabila infak tersebut disertai kata-kata semacam itu, maka tujuan utama dari infak tersebut, yaitu untuk menghibur dan meringankan penderitaan tidak akan tercapai. Sebab itu Allah swt. melarangnya, dan menegaskan bahwa infak semacam itu hapus pahalanya.

Orang yang berinfak karena riya sama halnya dengan orang yang melakukan ibadah lainnya dengan riya, salatnya itu batal pahalanya dan tidak mencapai tujuan yang dimaksud. Sebab tujuan salat adalah menghadapkan segenap hati dan jiwa kepada Allah swt. serta meresapkan kebesaran dan kekuasaan-Nya, dan memanjatkan syukur atas segala rahmat-Nya. Sedang orang yang salat karena riya, perhatiannya bukan tertuju kepada Allah, melainkan kepada orang yang diharapkannya untuk memuji dan menyanjungnya.

Sifat riya adalah suatu tabiat yang tidak baik. Sebagian orang ingin dipuji dan disanjung atas suatu kebajikan yang dilakukannya. Orang yang bersedekah yang mengharapkan pujian dan terima kasih dari yang menerima sedekah itu, bila pada suatu ketika ia merasa kurang dipuji dan kurang ucapan terima kasih kepadanya dari si penerima atau kurang penghargaan si penerima terhadap sedekahnya itu, dia akan merasa sangat kecewa. Dalam keadaan demikian, sangat besar kemungkinan ia akan mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan si penerima sehingga sedekahnya itu tidak akan mendatangkan pahala di sisi Allah. Dan orang yang bertabiat semacam ini, sesungguhnya tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhirat. Sedekah semacam itu adalah seperti debu di atas batu yang licin, apabila datang hujan lebat maka debu itu hilang lenyap.

Demikian pulalah halnya sedekah yang diberikan karena riya, tidak akan mendatangkan pahala apa pun di akhirat nanti sebab amalan itu tidak dilakukan untuk mencapai rida Allah melainkan karena mengharapkan pujian manusia semata-mata. Dengan demikian ia tidak memperoleh hasil apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia la tidak mendapatkan hasil apa-apa dari sedekahnya itu karena sedekahnya yang disertai rasa riya atau perkataan yang menyakitkan hati hanyalah akan menimbulkan kebencian masyarakat kepadanya. Sedang di akhirat, ia tidak memperoleh pahala dari sisi Allah, karena riya dan kata-kata yang tidak menyenangkan itu telah menghapuskan pahala amalnya. Dan Allah swt. memberikan pahala hanya kepada orang-orang yang beramal dengan ikhlas, ingin mensucikan diri dan memperbaiki keadaan mereka, dan mengharapkan rida-Nya semata-mata.

Pada akhir ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa Dia tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir karena petunjuk itu berdasarkan iman. Iman itulah yang membimbing seseorang kepada keikhlasan beramal dan menjaga diri dari perbuatan dan ucapan yang dapat merusak amalnya serta melenyapkan pahalanya. Maka dalam ayat ini terdapat sindirian bahwa sifat riya dan kata-kata yang tidak menyenangkan itu adalah sebagian dari sifat-sifat dan perbuatan orang-orang kafir dan harus dijauhi oleh orang-orang yang mukmin.

Banyak hadis-hadis Rasulullah saw. yang mencela sedekah yang disertai dengan ucapan yang menyakitkan hati. Imam Muslim meriwayatkan hadis berikut dari Abu Zar. Rasulullah saw. bersabda:

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم : المنان بما أعطي و المسبل إزاره و المنفق سلعته بالحلف الكاذب

Artinya:
Ada tiga macam orang yang pada hari kiamat nanti Allah swt. tidak akan berbicara dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka dan tidak akan mensucikan mereka dari dosa dan akan mendapat azab yang pedih. Yaitu orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya apabila ia memberikan sesuatu, dan orang yang suka memakai sarungnya terlalu dalam sampai menyapu tanah karena congkaknya dan orang yang berusaha melariskan dagangannya dengan sumpah yang bohong. (HR Muslim dari Abi Zar)

Dan Imam Nasai juga meriwayatkan suatu hadis dari Ibnu Umar, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:

لا يدخل الجنة مدمن خمر ولا عاق لوالديه ولا منان

Artinya:
Tidak akan masuk surga orang yang selalu minum khamar dan tidak pula orang yang durhaka terhadap ibu bapaknya dan tidak pula orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya. (HR An Nasa'i dari Ibnu Abbas)

Tafsir Indonesia Jalalain Surah Al-Baqarah 264

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu batalkan sedekah-sedekahmu), maksudnya pahala-pahalanya (dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan) si penerima hingga menjadi hapus (seperti orang), maksudnya seperti batalnya nafkah orang yang (menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia) maksudnya ingin mendapatkan pujian manusia (dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari yang akhir) yakni orang munafik (Maka perumpamaannya adalah seperti sebuah batu licin yang bertanah di atasnya, lalu ditimpa oleh hujan lebat) (hingga menjadi licin tandas) tanpa tanah dan apa-apa lagi di atasnya. (Mereka tidak menguasai). Kalimat ini untuk menyatakan tamsil keadaan orang munafik yang menafkahkan hartanya dengan tujuan beroleh pujian manusia. Dhamir atau kata ganti manusia di sini menunjukkan jamak, mengingat makna 'alladzii' juga mencakupnya (suatu pun dari hasil usaha mereka) yang telah mereka kerjakan, maksudnya pahalanya di akhirat, tak ubahnya bagai batu licin yang ditimpa hujan hingga tanahnya habis dihanyutkan air. (Dan Allah tidak menunjukkan orang-orang yang kafir).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar!
Apabila ada penulisan yang salah atau kurang tepat.